Menu
SAJIAN ISI

"Jokowi: Sektor Kelapa Sawit Membanggakan"

hortus edisi november 2019Presiden Joko Widodo (Jokowi) minta agar kalangan pengusaha kelapa sawit melakukan 5 langkah penting demi meningkatkan pengembangan komoditas ini ke depan. Salah satunya adalah perlunya mereka memperhatikan hilirisasi industri sawit. Upaya tersebut penting, kata Jokowi, agar ekspor kelapa sawit ini bisa berupa barang jadi yang dikemas dengan baik."Hilirisasi industri kelapa sawit ini betul-betul perlu diperhatikan, jangan jualannya hanya CPO terus," pintanya menegaskan pada saat membuka perhelatan 14th Indonesian Palm Oil Confrence and 2019 Price Outlook (IPOC), yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali, Senin, 29 Oktober 2018.  

Didampingi antara lain oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Ketua Umum Gapki Joko Supriyono, Presiden  punya keinginan agar produksi kelapa sawit bisa terus bertumbuh.

Untuk itu, selain memperhatikan hilirisasi industri sawit, keempat langkah lainnya yang perlu diupayakan adalah perlunya pelaku sawit memaksimalkan kemajuan teknologi untuk praktik keberlanjutan industri kelapa sawit.  Sebagai contoh, biji kelapa sawit harus terus dikembangkan dengan teknologi supaya tahan hama dan berbuah lebih banyak.

"Ini penting supaya yang namanya sawit tidak terus dikritik dari LSM, kiri-kanan, atas-bawah, depan semuanya mengkritik ini. Betul-betul soal keberlanjutan lingkungan itu diperhatikan," katanya menandaskan.

Selanjutnya, Presiden ingin agar peremajaan kebun kelapa sawit dipercepat. Sehubungan dengan hal ini, Jokowi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin melihat atau mendengar prosedur yang diperlukan para petani kelapa sawit terlalu berbelit-belit.

"Cek prosedurnya betul. Kalau terlalu banyak coret semua, satu saja cukup prosedur itu. Yang penting sampai ke petani, yang penting juga peremajaan itu bisa segera dilaksanakan. Karena kita ingin dengan peremajaan sawit ini kesejahteraan petani kebun sawit rakyat bisa kita tingkatkan," tegasnya.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan perlunya peningkatan ekspor bagi para pelaku usaha. Presiden memandang bahwa ekspor kelapa sawit ini memiliki potensi yang besar untuk ekonomi Indonesia dalam memperoleh devisa.

"Tadi disampaikan oleh Pak Ketua, sekarang sudah mencapai US$ 21 miliar. Itu kalau dirupiahkan berapa triliun? 300-an triliun lebih. Ini angka yang sangat besar," katanya menekankan.

Masih terkait ekspor, Jokowi juga memandang pentingnya mengembangkan pasar untuk memasarkan kelapa sawit di mancanegara. Ia berharap para produsen kelapa sawit mulai melirik pasar-pasar nontradisional, seperti Pakistan, Bangladesh, Iran, dan Afrika, bukan hanya Uni Eropa dan India.

Presiden berharap dengan banyaknya negara yang menjadi pasar tujuan ekspor kelapa sawit ini, maka penumpukan stok bisa dikurangi sehingga harga jual komoditas perkebunan ini akan dapat terjaga dengan baik.

"Terakhir waktu saya (bertemu) Perdana Menteri Li Keqiang dari Tiongkok, saat itu saya minta tambahan ekspor kelapa sawit kita untuk ke Tiongkok. Langsung saat itu ditambah 500 ribu ton. Tapi masa presiden jualan terus? Perusahaan-perusahaan dong muter, jualan biar stoknya yang ada di dalam negeri tidak banyak. Saya tahu stok sekarang ini banyak sehingga harga sedikit turun," paparnya.

Langkah kelima, kata Jokowi, pihaknya minta agar implementasi pemakaian biodiesel B20 terus dipercepat dan dilaksanakan secara maksimal. Ia mengakui meski sudah diputuskan dari tahun kemarin, pelaksanaannya masih belum berjalan secepat yang diharapkan.

"Ini saya kejar terus agar penggunaannya bisa 100%, agar stok CPO yang ada itu bisa diserap kita sendiri. Ngapain kita impor minyak kalau dari kelapa sawit kita bisa gunakan campuran biodiesel?" tukasnya.

Menurut dia, jika stok minyak kelapa sawit yang ada digunakan untuk campuran bahan bakar biodiesel B20, maka otomatis hal itu akan mendongkrak harga dari komoditas kelapa sawit itu sendiri.

"Trik dagang seperti ini kan memang harus kita lakukan. Kalau tidak ditekan terus. Ditekan, ya kita gunakan sendiri kalau B20 ini berjalan. Ganti semua mesin-mesin  baik mesin mobil maupun mesin pembangkit listrik semua pakai diesel. Kapok mereka. Tapi ini perlu waktu," kata Jokowi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengungkapkan,  dipilihnya tema Indonesia Palm Oil Development: Contribution to Development Goals (SDGs)  untuk menunjukkan komitmen besar dari industri kelapa sawit terhadap SDGs.

"Bahkan, dalam kaitan dengan environmental sustainability, nantinya setiap industri kelapa sawit harus berorientasi pada pengembangan industri rendah emisi," kata Joko.

Menurut Joko, sejumlah persoalan global masih membayangi industri sawit pada tahun ini, di antaranya akibat perang dagang Amerika Serikat dan China, hambatan bea cukai perdagangan, serta kampanye hitam. Namun, tantangan ekonomi global tersebut tidak terlalu berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi industri kelapa sawit.

Hingga tahun ini, iklim bisnis industri kelapa sawit di Indonesia masih positif. Berdasarkan komparasi 2017 hingga oktober 2018, ekspor kelapa sawit Indonesia meningkat hingga 4% dengan income mencapai US$2,1 juta. Bahkan di akhir 2018, ekspor ditargetkan meningkat hingga 7% dengan income US$2,9 juta.

Untuk mendorong produktivitas dan pendapatan industri sawit tahun depan, pemerintah dan industri akan melakukan sedikitnya tiga strategi. Pertama, mengembangkan iklim yang semakin kompetitif antara negara dan industri dalam produktivitas dan harga kelapa sawit.

Selanjutnya, upaya bersama untuk mengembangkan pangsa pasar baru dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik. Dan terakhir, pemasifan kampanye positif terhadap industri kelapa sawit.

Hasil analisis kuantitatif Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyatakan bahwa ada kaitan yang kuat antara industri kelapa sawit dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurut Febrio Kacaribu dari LPEM UI,  ada hubungan yang sangat erat antara kenaikan jumlah lahan perkebunan kelapa sawit dengan kedelapan indikator SDGs yang diteliti.
Dalam penelitian tersebut, dianalisis aspek ekonomi dan sosial dari kelapa sawit yang berkontribusi pada SDGs.

Adapun ruang lingkup kajian ini mengenai pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan produksi dan konsumsi, kesehatan (angka harapan hidup), ketersediaan air bersih, kemiskinan dan ketimpangan, ketahanan pangan dan nutrisi, industrialisasi, serta pendidikan.

"Studi kasus dilakukan di Lampung Timur, kawasan yang tercatat terjadi peningkatan lahan kelapa sawit sebanyak 300% dari 2005 hingga 2015," papar Febrio.

Menurutnya, hasil riset menunjukkan, dari 10% kenaikan jumlah lahan perkebunan kelapa sawit, ternyata berpengaruh terhadap 0,05% penurunan tingkat kemiskinan, sebesar 0,02% menurunkan tingkat pengangguran, 0,03% peningkatan jumlah lulusan sekolah menengah ke atas, 0,12% peningkatan konsumsi non-makanan, serta sebesar 0,21% pada peningkatan akses air bersih.

"Sedangkan pengaruh kenaikan 10% lahan sawit terhadap peningkatan akses sanitasi bersih sebesar 0,17%, kenaikan angka pendapatan perkapita sebesar 1,8%, dan angka harapan hidup 2 hari lebih tinggi, serta peningkatan rata-rata jumlah kalori sebanyak 15,6 kkal," jelasnya.

Sementara Catur Ariyanto Widodo dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyampaikan komitmen BPDPKS terhadap keberlanjutan industri sawit dan pencapaian SDGs. Sebagai special operating agency yang dibentuk untuk mengatasi aspek pembiayaan industri kelapa sawit, BPDPKS menjalankan serangkaian program dalam upaya menjadikan sawit berkelanjutan.

"Dampak program-program yang sudah dilakukan lembaga kami terbukti mempengaruhi pencapaian SDGs," aku Catur.

Dua program utama BPDPKS, yakni program peremajaan kebun (replanting) bagi petani rakyat dan biodiesel. Keduanya berkontribusi pada pemenuhan tujuan SDGs nomor 8 (decent work and economic growth) dan nomor 7 (affordable and Clean energy).

Bayu Krisnamurthi dari IPB yang memandu konferensi IPOC hari pertama, menegaskan bahwa industri kelapa sawit sangat berkontribusi pada SDGs. Kontribusi itu terlihat saat industri itu melakukan proses seperti biasa (sebelum tuntutan SDGs).

"Sehingga, jika kita memang sengaja membuat proses bisnis yang sesuai dengan SDGs, maka akan lebih banyak kontribusi yang dihasilkan," katanya.

Terkait harga CPO, menurut Bayu, ada dua keuntungan langsung yang dapat meningkatkan harga CPO, yakni branding dan program mandatori biodiesel B20. Dengan kontribusi terhadap SDGs, Indonesia dapat mengatakan bahwa industri ini bersih dan baik. Sementara dengan program B20, jika semua stakeholder bekerja sama, maka program ini bisa ditangani dengan baik dan selanjutnya berkontribusi terhadap pencapaian SDGs.  ***SH, AP

 

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id