Menu
SAJIAN ISI

Wajib Fermentasi Kakao Perlu Didukung Semua Stakeholder Featured

Wajib Fermentasi Kakao Wajib Fermentasi Kakao

Agar kewajiban fermentasi untuk komoditi cokelat berhasil di sentra-sentra penghasil cokelat maka tak cukup bila hanya Kementerian Pertanian saja yang berperan. Stakeholder lain juga perlu dilibatkan. Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (Apkai) Provinsi Sulawesi Selatan, A.Sulaiman H.A.Loeloe  memberikan apresiasi sekaligus menyambut baik lahirnya Permentan No.67 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao, yang efektif dan yang akan wajib diberlakukan mulai 2016.  Dia menilai, regulasi ini sangat penting untuk memperbaiki mutu biji kakao Indonesia, meningkatkan daya saing dan nilai tambah biji kakao Indonesia serta mendukung pengembangan industri kakao di dalam negeri.

Selama ini, ungkap Sulaiman, petani selalu dianggap malas dan tidak mau melakukan fermentasi, dengan kata lain petani selalu dikambinghitamkan. Namun Sulaiman menjelaskan petani sebetulnya sudah paham mengenai fermentasi dan tidak sulit untuk mengimplementasikan.

Bahkan Ditjen P2HP melalui Dinas Perkebunan Provinsi Sulsel telah melatih dan memberikan bantuan berupa peti fermentasi dan dryer (alat pengering biji kakao) pada petani. Namun upaya-upaya itu tidak maksimal mengingat seharusnya pihak hilir atau pembeli yang tidak mendidik petani untuk membuat yang baik, karena petani tidak punya posisi tawar dan petani hanya membuat sesuai keinginan pasar.

Karena itulah, Sulaiman menyarankan agar pembeli juga perlu pembinaan, jangan hanya petaninya. Dengan lahirnya Permentan No.67/2014 ini, Apkai minta jangan hanya Kementerian Pertanian saja yang berkeinginan untuk memperbaiki mutu melalui Permentan No.67/2014 ini, tapi Kementerian Perdagangan, Perindustrian, Keuangan dan Kementerian Koperasi, harus terlibat semua untuk mendukung peningkatan mutu biji kakao Indonesia sesuai dengan peran masing-masing agar bisa berjalan dengan baik.

“Kalau hanya Kementerian Pertanian saja, kami tidak bisa yakin akan berjalan dengan maksimal, karena umumnya Peraturan Menteri tidak ada sanksi yang tegas bagi stakeholder yang terlibat bila tidak menjalankan peraturan tersebut,” tukasnya.

Ambil contoh SNI 2323- 2008 tentang mutu biji kakao Indonesia, hingga saat ini belum wajib karena tidak ada sanksi bagi pihak hilir yang tegas, sehingga akhirnya seperti aktivitas suka rela saja.
Selain itu, permasalahan selisih harga antara biji fermentasi dengan biji asalan bila kondisi tanaman kakao seperti saat sekarang terkena Hama Penggerek Buah Kakao (PBK ) masih sangat tinggi antara 20% - 50 %, maka petani lebih suka menjual biji asalan karena kalau hanya selisih Rp.2.000 per kilogram petani lebih untung jual biji asalan.

Selain itu pembeli biji asalan juga sangat banyak dan lebih menjanjikan bagi petani. Petani cepat terima uang dan kepastian harga langsung didapatkan. Petani juga tidak terlalu banyak terkuras tenaga mereka, tidak perlu menyortir buah dan lain-lainnya, dibanding bila mereka melakukan fermentasi.

1 comment

  • Eddy O.M. Boekoesoe
    Eddy O.M. Boekoesoe Kamis, 19 March 2015 14:09 Comment Link

    Halangan fermentasi kakao ada pada cara pemgeringaan yang menggunakan penjemuran dengan matahari yang berbiaya tinggi sehingga petani menjadi enggan memfermentasi kakaonya. Untuk itu petani harus dibantu dengan membangun pabrik fermenrqasi kakao dengan mesin pengering satu hari sehingga tidak sempat tumbuh jamur. Saya ada deasain pabrik kapasitas 100 ton per tahun atau 8.400 kg per bulan, seharga 400 juta sudah berdiri diatas kebun petani siap operasi.. Dengan keuntungan bersih 5.000 rupiah per kilo marginnya 42 juta rupiah. Dengan margin sebesar ini petani akan mudah membayar kredit harga pabrik. Hubungi saya di 08128767939. Eddy Boekoesoe

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id