Menu
SAJIAN ISI

Pemerintah Siapkan Lahan untuk PG Existing & Baru

hortus edisi 47 agustus 2016Pemerintah mempercepat izin sementara penyediaan lahan bagi 14 pabrik gula (PG) existing dan 13 PG baru dengan lahan yang dicadangkan 700 ribu hektar (ha). Pencadangan lahan tersebut diprioritaskan dari lahan hutan produksi dan hutan produksi konversi. Pemerintah kini mulai serius mengupayakan penyiapan lahan untuk keperluan pabrik gula (PG) existing maupun yang baru. Alasan pemerintah menyiapkan lahan bagi kebutuhan pabrik gula tersebut adalah untuk menekan impor gula rafinasi. Sebab, saat ini. terdapat 13 pabrik gula yang tidak memiliki lahan bahan baku.

"Kalau nggak, kita terpaksa harus mengimpor gula mentah (raw sugar) untuk digiling sama mereka. Harus dicari penyelesaian mengenai hal itu." kata Menko Perkonomian Darmin Nasution di Kompleks Istana Negara, Jakarta, pada medio Juli kemarin.

Menurut dia, penyediaan lahan tambahan menjadi penyelesaian jangka pendek bagi pabrik gula yang tidak memiliki lahan produksi bahan baku. Skema penyediaan lahannya, lanjut Darmin, bisa dilakukan dengan cara kerja sama dengan masyarakat yang tentunya memiliki lahan. Selain itu, juga bisa memanfaatkan lahan yang dimiliki oleh Perum Perhutani.

Dan apa yang disampaikan Menko Darmin tersebut, agaknya bukan sekadar wacana. Selang 4 hari kemudian, sejumlah menteri terkait di bawah Menko Perekonomian menggelar rapat koordinasi (rakor) membahas masalah lahan, investasi pabrik gula dan kebun tebu di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan).

Mereka adalah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Ferry Mursyidan Baldan dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Beberapa hal yang diputuskan antara lain pemerintah mempercepat izin sementara penyediaan lahan bagi 14 pabrik gula existing dan 13 pabrik gula baru dengan lahan yang dicadangkan seluas 700 ribu ha. Pencadangan lahan tersebut diprioritaskan diperoleh dari lahan hutan produksi dan hutan produksi konversi.

"Dalam rapat koordinasi, kami sepakat, khusus untuk pangan bisa menyediakan lahan hingga  2 juta hektar yang diprioritaskan untuk tebu sebanyak 330 ribu hektar," kata Mentan Amran dalam jumpa pers usai pertemuan rakor tersebut.

Ditambahkan Amran,  BUMN juga berencana terlibat dalam investasi pabrik gula dalam bentuk saham. Dalam membangun pabrik gula perlu memperhatikan penyerapan tenaga kerja lokal dan bermitra dengan komposisi lahan dari petani minimal 30%.

Selanjutnya, dalam rangka mengembangkan tanaman tebu di lahan konsei Perum Perhutani akan dilakukan deregulasi terhadap Peraturan Menteri (Permen) LHK yang terkait sebagai landasan dalam pengembangan tebu di arealnya.

Amran menjelaskan, untuk pengembangan tebu ini terdapat 27 perusahaan yang berkomitmen investasi membangun kebun tebu. Rinciannya, 2 perusahaan sudah siap beroperasi dan memperoleh izin lahan 55 ribu ha yaitu pabrik gula di Lamongan (Jawa Timur) dan di Dompu (NTB). Sedangkan, 4 investor dalam proses pengurusan lahan seluas 246 ribu ha dan 21 investor lainnya sedang difasilitasi untuk memperoleh lahan.

"Bila 27 pabrik gula tersebut beroperasi maka akan bisa menyerap 3,8 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung dengan nilai investasi Rp85 Triliun. Diperkirakan juga akan menghasilkan 7,42 juta ton gula pada tahun 2022 sedangkan kebutuhan konsumsi saat itu diperkirakan hanya 7,34 juta ton. Itu berarti akan terjadi surplus gula 0,12 juta ton," papar  Amran.

Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan Siti Nurbaya menekankan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk meminimalisir konflik lahan yang bisa terjadi antara perusahaan dengan masyarakat. Karena itu akan digalakkan penyuluhan secara intensif, supervisi secara tepat dan memperkuat kelembagaan.

"Perlu pula dilakukan upaya antisipasi 5 sampai 10 tahun ke depan dalam mengembangkan industri gula yang dapat menghasilkan produk energi listrik dan bioetanol yang ramah lingkungan. Pemanfaatan produk tersebut dapat dijajaki kerja sama dengan PLN dan Pertamina," kata Siti.

Dalam kesempatan itu, Amran juga menjelaskan bahwa sejauh ini terdapat sejumlah perusahaan pabrik gula kekurangan lahan sehingga produksinya tidak optimal. Ada 15 perusahaan sudah investasi bangun pabrik. Potensi ini mesti dimaksimalkan karena mereka sudah investasi,” ujarnya.

Kurangnya ketersediaan lahan menyebabkan pabrik-pabrik gula tersebut tidak dapat memaksimalkan kapasitasnya secara penuh. Dia menyebut pemerintah ingin menekan impor gula seperti impor jagung yang sepanjang tahun ini sudah turun hingga 47%.

“Potensi ini harus harus kita optimalkan. Mereka sudah investasi dalam kisaran Rp2 hingga Rp4 triliun. Kapasitasnya 10.000 TCD tapi bahan baku yang tersedia hanya mampu mencukupi 5.000 TCD. Sehingga terjadi idle capacity,” kata dia.

Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), San Afri Awang menambahkan, lahan seluas 2 juta hektar untuk mendukung kebutuhan pangan tersebut tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.

“Ada cukup banyak provinsi sebarannya, bagian penting itu tentu Merauke. Di Merauke ada sekitar 1,2 juta hektar,” ungkap San Afri. Dia menjamin pemerintah akan mengawal proses investasi dari pemilik modal tersebut untuk menghindari konflik tertentu dengan masyarakat setempat.

Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry M Baldan telah memastikan peta jalan (roadmap) penyediaan lahan tebu bagi belasan perusahaan gula swasta yang selama ini telah investasi banyak di Indonesia akan segera selesai dengan cepat.

"Ya bahas lahan difasilitasi roadmap-nya. Terus ketersediaan lahannya, akan rapat lagi dalam waktu dua minggu untuk merealisasikan roadmap itu." tandasnya.

Lahan yang disediakan akan disesuaikan dengan kebutuhan dari sejumlah perusahaan gula swasta itu. "Jadi yang disediakan sesuai dengan yang dibutuhkan, ada beberapa tambahan lahan untuk tebu, kami harus siapkan itu," tambahnya.

Menteri Agraria menjelaskan, penyediaan lahan kepada belasan perusahaan tersebut, ditujukan untuk  perusahaan yang telah investasi lama di Indonesia dan tercatat di Kementerian Pertanian serta telah memiliki pabrik pengolahan gula sendiri.

Mengenai skema, dia mengungkapkan, masih dalam tahap finalisasi baik diberikan secara cuma-cuma atau dikerjasamakan. "Bagaimanapun karena dia sudah investasi dan butuh ketersediaan lahan maka kita siapkan," kata Ferry.

Percepat Impor “Raw Sugar”
Secara terpisah, Asosiasi Gula Rafinansi Indonesia (Agri) meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mempercepat kuota impor gula mentah yang seharusnya dilakukan pada triwulan IV-2016.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto mengatakan, surat dari asosiasi soal supaya jatah impor kuartal IV dipercepat sudah diterima. Menurut dia, situasi pasar global untuk bahan baku gula sangat tidak menguntungkan industri di dalam negeri. Pasalnya, selain stoknya terbatas, harga jual gula tersebut sangat tinggi.

"Sekarang situasinya untuk gula di luar kan lagi sulit mendapatkan barang. Thailand sudah menutup, tinggal Brazil sama Australia, harganya juga naik. Ini kita harus cermati jangan sampai kita kekurangan." ujar Panggah di Kementerian Perindustrian, Jakarta, belum lama ini.

Selain itu, produksi gula mentah di dalam negeri juga dikhawatirkan tidak sesuai harapan. Pasalnya, musim giling tebu mundur akibat faktor cuaca. Hal ini membuat rendemen tebu menjadi rendah sehingga produksi tidak sesuai target.

Panggah menyatakan, menipisnya stok bahan baku gula ini mungkin tidak terlalu dirasakan oleh industri pengguna gula skala besar. Namun hal ini akan sangat dirasakan oleh industri-industri skala kecil. Oleh sebab itu, pihaknya harus memastikan agar stok gula mentah ini bisa mencukupi untuk kebutuhan industri.

Kebutuhan raw sugar untuk industri pada tahun ini disebutkan sebesar 3,2 juta ton. Hingga saat ini realisasi impor tersebut baru sebesar 1.7 juta ton. Sementara hingga September ditargetkan bisa terpenuhi hingga 2,7 juta ton. Ini berarti masih ada sisa 500 ribu ton yang harus dikejar hingga akhir tahun 2016. *** HB, NM, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id