Menu
SAJIAN ISI

Kebijakan Impor Gula 400 Ribu Ton Menuai Protes

hortus edisi feb 2017Keputusan Kementerian Perdagangan mengimpor raw sugar sebanyak 400 ribu ton untuk diolah menjadi gula konsumsi menuai protes dari kalangan petani tebu dan DPR.  Mereka khawatir impor raw sugar yang dipercayakan kepada 8 perusahaan rafinasi itu akan menyebabkan over suplai dan merugikan petani.

Kemelut pergulaan di negeri ini seperti tiada henti-hentinya. Terutama, yang menyangkut akurasi data antara stok gula yang ada di dalam negeri dan kebutuhan gula untuk pasar konsumsi.  Kondisi ini tak pelak telah menyulut munculnya protes ketika pemerintah memutuskan untuk impor gula (raw sugar/gula mentah) guna menekan melambungnya harga komoditas ini di tingkat konsumen.

Akhir Mei 2016 silam misalnya,  ketika pemerintah cq Menteri BUMN Rini Soemarno memutuskan untuk menugaskan PTPN X mengimpor raw sugar sebanyak 381 ribu ton, juga menimbulkan “kegaduhan” di kalangan anggota DPR.   

Jatah kuota impor 381.000 ton tersebut akan dialokasikan untuk 6 pabrik gula BUMN untuk diolah menjadi GKP (gula kristal putih). Pabrik-pabrik gula tersebut adalah PTPN IX sebanyak 41.000 ton, PTPN X sebesar 115.000 ton, PTPN XI sebesar 100.000 ton, PTPN XII sejumlah 25.000 ton, PT PG Rajawali I sejumlah 48.000 ton, dan PT PG Rajawali II sebanyak 52.000 ton.

Impor tersebut diberikan kepada BUMN perkebunan sebagai insentif untuk peningkatan rendemen pabrik gula dari rata-rata 8% menjadi 8,5%. "BUMN gula berharap diberi kesempatan untuk impor raw sugar dalam rangka memenuhi kebutuhan gula konsumsi dalam negeri," kata Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro menjelaskan alasan impor gula, kala itu.

Saat ini melalui Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, pemerintah kembali akan mengimpor raw sugar sebanyak 400 ribu ton. Izin impor gula mentah yang hanya akan diberikan kepada 8 perusahaan gula rafinasi ini, mengundang pertanyaan tersendiri mengingat jumlah perusahaan gula rafinasi yang ada di negeri ini total sebanyak 11 perusahaan.     

Izin impor gula mentah ini khusus untuk diolah menjadi gula untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Untuk tahap pertama, Kemendag mengeluarkan izin impor untuk 400.000 ton yang diimpor dari Thailand, Brasil dan Australia. Kemendag berharap dengan masuknya gula mentah yang akan diolah menjadi gula konsumsi ini dapat mengatasi kekurangan kebutuhan gula yang diperkirakan 1 juta ton tahun ini.

Berdasarkan perhitungan Kemendag, ungkap Enggar, kebutuhan konsumsi gula pada tahun 2017 ini mencapai kisaran 3,2 juta ton hingga 3,5 juta ton. Angka tersebut muncul setelah ada perkiraan penambahan jumlah konsumsi seiring penambahan jumlah penduduk.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago Edisi Februari 2017. Dapat diperoleh di toko Buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id