Menu
SAJIAN ISI

Musim Giling Tebu 2017: Harga Lelang Gula Rendah, Petani Lesu

hortus edisi agustus 2017Pada musim giling tebu tahun ini, petani dirundung kelesuan. Pasalnya, harga lelang gula mereka hanya berada pada kisaran Rp9.500-Rp10.000 per kg, sementara modal petani untuk menghasilkan 1 kg gula mencapai Rp10.600. Musim giling tebu tahun ini tengah berlangsung di pabrik gula-pabrik gula (PG) yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera.

Bila di Jawa umumnya tebu yang ditanam petani maupun PG mulai memasuki musim giling sejak awal Mei 2017 lalu maka di Sumatera sebulan lebih duluan, yakni April 2017. Dan musim giling tebu tahun ini diprediksi akan berakhir pada Agustus hingga September 2017.

Bagi kebanyakan petani tebu, datangnya musim giling berarti tiba pula giliran mereka untuk memetik keuntungan, setelah kurang lebih setahun mereka membudidayakan tanaman penghasil gula sukrosa ini. Namun, agaknya tidak untuk musim giling tahun ini.

Apa sebab? Di awal-awal masa panen seperti saat ini, ungkap Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen, lelang gula petani hanya dihargai Rp9.500-Rp10.000 per kg. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang bisa mencapai  Rp14.800 per kg.

“Harga lelang gula juga jauh di bawah harapan petani yang menginginkan di kisaran Rp 11.700 per kg. Jadi bisa dikatakan kondisinya hancur petani tebu saat ini,” tandas Soemitro di sela acara Rakernas APTRI yang digelar 20-21 Juli 2017, di Jakarta.

Soemitro juga menyebut harga eceran tertinggi (HET) gula yang ditetapkan Menteri Perdagangan sebesar Rp12.500 per kg, sebagai salah satu penyebab rendahnya harga lelang gula petani. Seharusnya sesuai dengan fakta di lapangan HET untuk gula saat ini berada pada level Rp14.000 per kg.  

Dengan HET gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.500 per kg, jelas tidak bisa menutup modal yang sudah dikeluarkan petani tebu. Para petani, kata dia, harus mengeluarkan modal Rp 10.600 untuk menghasilkan 1 kg gula. Kemudian, gula tersebut dilelang ke distributor dan hanya dihargai Rp 9.500 per kg. Dengan harga tersebut petani tidak mendapatkan keuntungan.

Soemitro menegaskan, HET gula saat ini sebesar Rp 12.500/kg memberatkan petani. Kata dia, dengan kondisi kadar gula di dalam batang tebu (rendemen) saat ini yang kurang dari 7% seharusnya Harga Pokok Petani (HPP) sebesar Rp 11.700/kg dan HET sebesar Rp14.000/kg.

"Kalau sekarang HET Rp 12.500/kg ya memberatkan. Mendag nggak mau dengerin kami, ada pedagang jual Rp 13.000/kg langsung kirim Satgas. Padahal ini kan masih murah
nggak memberatkan," paparnya.

Dia mengaku tidak keberatan HET sebesar Rp 12.500/kg tersebut diterapkan jika rendemen tebu mencapai 10%. Sementara produktivitas tanaman tebu dalam setahun saat ini berada di bawah 80 ton/hektar (ha). Dengan rendemen tebu saat ini masih di bawah 7% maka biaya produksi mencapai kisaran Rp 9.500-10.500/kg.

"Padahal kami idealnya bisa untung kalau produktivitas juga sebesar 100 ton/hektar dalam setahun dan rendemen bisa 10 persen," kata dia lagi. .

Pernyataan hampir senada juga disampaikan Sekjen APTRI, Nur Khabsyin pada kesempatan yang sama. Menurut Nur, penetapan HET gula yang sebesar Rp 12.500 per kg hanya menyengsarakan petani. Apalagi, pemerintah juga telah menetapkan pembelian gula dari distributor kepada produsen (pabrik gula) dipatok Rp10.900 per kg.

Dengan penetapan harga seperti itu berarti pedagang yang ikut lelang gula akan menawar di bawah angka Rp10.900 per kg. “Karena gula dari pedagang akan dijual kepada distributor dengan harga Rp10.900 per kg. Artinya, harga di tingkat petani juga ikut jatuh,” tukasnya.

Ketentuan HET yang hanya Rp12.500 per kg telah memicu rendahnya harga lelang gula petani. Terbukti, lelang gula petani perdana yang digelar pada 9 Mei di Pabrik Gula Trangkil, Pati, Jateng, hanya ditawar Rp10.020 per kg, sementara gula petani di PG Pakis Baru Pati hanya ditawar Rp9.500 per kg.

“Karena tawarannya rendah maka lelang dibatalkan alias tidak dilepas. Rendahnya harga lelang gula ini jelas sangat merugikan petani, apalagi rendemen saat ini juga masih rendah, hanya 6 persen,” tegas Nur.

Anjloknya harga lelang gula petani juga dipicu oleh adanya isu gula milik petani akan dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen. Tentunya itu membuat pedagang jadi takut membeli gula petani karena khawatir di belakang hari bakal ditarik PPN.

“Itu sebabnya juga pedagang menawar gula petani di bawah harga pembelian yang ditetapkan oleh Mendag karena mereka akan memperhitungkan dengan PPN. Mereka akan menawar 10 persen di bawah angka Rp10.900 per kg,” papar  Nur.

Ditambahkan, pemicu lainnya terkait dengan belum ditetapkannya harga pokok petani (HPP) gula oleh pemerintah. Hal ini juga telah membuat pedagang ragu dalam menawar karena tidak ada patokan yang jelas dari pemerintah. “Berdasarkan kondisi tersebut, APTRI mendesak Mendag untuk segera menetapkan HPP gula,” tegasnya.

Usulan APTRI untuk HPP gula adalah Rp11.760 per kg dengan asumsi rendemen 7,5% untuk tanaman pertama atau plant cane dan 7% untuk tanaman ratoon. “Kami juga meminta agar pemerintah tidak mengenakan PPN terhada gula petani. Karena petani bukan pengusaha kena pajak (PKP),” pintanya menekankan.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi Agustus 2017. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id