Menu
SAJIAN ISI

Dr. Hasril Hasan Siregar : Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan

Dr. Hasril Hasan Siregar : Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan

Inginkan PPKS Jadi Pusat Referensi Sawit

Nama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bukan nama yang asing bagi industri perkelapasawitan tanah air.  Lembaga ini punya andil yang tak kecil dalam turut memajukan pembangunan perkebunan sawit di negeri ini. Dalam membangun etos kerjanya, PPKS memiliki budaya inovatif yang merupakan kebutuhan dasar dalam menjalankan setiap misi dan guna mencapai visinya. PPKS selalu menawarkan ide-ide baru yang segar (out of the box), kreatif, dan orisinil dengan didasari pada keinginannya untuk menjadi pusat riset unggulan yang berkesinambungan.

Bagi Direktur PPKS, Dr. Hasril Hasan Siregar yang memegang tongkat kepemimpinan sejak 5 Januari 2015 ini, dalam menjalankan kegiatan perusahaan, baik dalam penelitian, pelayanan, dan kegiatan umum lainnya, budaya objektif yakni melihat keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi menjadi prinsipnya.

Selain itu, Hasril berkeinginan menjadikan PPKS sebagai pusat referensi atau rujukan sawit. Apalagi saat ini PPKS masih menjadi produsen benih sawit terbesar meski pada tahun lalu sempat anjlok karena terdampak sentimen moratorium lahan sawit.

Permintaan terhadap benih selama semester I/2017 naik 1% atau menjadi 8,8 juta butir kecambah, setelah sempat anjlok tahun lalu karena terimbas sentimen moratorium lahan sawit.  Hal tersebut cukup mengembirakan, meskipun sebenarnya nyaris stagnan jika dibandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu.  

Dari penjualan sebesar 8,8 juta butir kecambah tersebut, sebagian besar atau 50-57% terserap untuk perkebunan rakyat. Sementara untuk semester II/2017, Hasril optimis PPKS mampu menjual 11,5 juta benih yang sebagian besar juga akan terserap perkebunan rakyat.

"Terbuka peluang penjualan benih sebanyak 21 juta butir selama tahun ini, naik 1 juta ton dari realisasi tahun lalu," kata Hasril, baru-baru ini, di Sukoharjo, Jawa Tengah.  

Hasril menilai, peningkatan aktivitas penanaman sawit mulai dilakukan pekebun dan perusahaan sawit karena tergerak oleh harga CPO belakangan ini, yang lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Menurut dia, harga rata-rata CPO sepanjang Januari-Mei dilaporkan US$720,1 per ton, lebih tinggi dari rata-rata tahun lalu yang hanya US$700 per ton.

"Animo itu [menanam] sudah mulai pulih dan tekanan moratorium sudah nggak sekuat tahun 2016," katanya menandaskan.

Hasril menjelaskan, pada 2016, penjualan benih PPKS anjlok hampir 20% menjadi sekitar 20 juta butir setelah Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan tentang rencana moratorium perluasan lahan sawit, ditambah lagi dengan dampak El Nino.

Meskipun penjualan terkoreksi, PPKS tahun lalu tetap bertahan memimpin pasar dengan pangsa (market share) 30% karena produsen benih swasta mengalami penurunan permintaan pada saat yang sama.

Dalam kondisi ideal, produsen benih sawit dengan merek DxP itu telah menghasilkan benih dengan produktivitas tandan buah segar (TBS) 32-36 ton per hektar per tahun dengan rendemen 6-8 ton CPO per ha per tahun. PPKS menargetkan mampu memproduksi benih dengan potensi produktivitas 35,3 ton TBS per ha per tahun dengan yield 10 ton CPO per ha per tahun.

Hasril meyakini permintaan akan terakselerasi pada paruh kedua tahun ini dengan perkiraan penjualan hingga 12 juta butir sejalan dengan realisasi peremajaan kebun sawit oleh pemerintah. Dengan demikian, terbuka peluang penjualan benih sebanyak 21 juta butir selama tahun ini, naik 1 juta ton dari realisasi tahun lalu.

Dengan target replanting 30.000 ha hingga tahun depan, dia yakin PPKS mampu mencukupi kebutuhan yang mencapai 3 juta butir karena kapasitas penangkaran benih PPKS sesungguhnya mencapai 100 juta benih di seluruh Indonesia.

"Jadi tahun ini mudah-mudahan sawit lebih baik. Industri baik, otomatis kami produsen benih dan risetnya mengikuti," kata Hasril.

Gaya kepemimpinan alumni Fakultas Pertanian IPB (kini FMIPA) jurusan Agroklimat ini memang menarik. Sebagai Direktur, Hasril lebih memposisikan dirinya sebagai jembatan bagi bibit-bibit muda peneliti di PPKS untuk membawa kemajuan bagi lembaganya. Hasril yakin dengan dipegang generasi muda, laju PPKS lebih mampu berlari kencang dalam menciptakan berbagai inovasi.

Dia juga meyakini, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika didukung oleh bahan tanam yang juga baik yaitu benih yang unggul. Maka tidaklah heran jika PPKS terus mengembangkan benih-benih kelapa sawit sesuai dengan permintaan pasar dengan harapan agar pengembangan tanaman kelapa sawit di Indonesia dapat terus di depan.

Memang untuk menciptakan benih unggul tidaklah semudah membalikkan tangan. Hal ini karena diperlukan riset beberapa puluh tahun untuk bisa menghasilkan benih-benih unggul yang berkualitas.  

Hasril berharap, petani bisa cermat memilih bibit yang akan ditanam dengan membeli di penyediaan bibit unggul dari sumber terpercaya. Pasalnya, bibit palsu baru akan diketahui setelah minimal 3 tahun ditanam. Bibit palsu, bukan hanya berproduksi rendah tapi juga bisa tidak berbuah sama sekali setelah bertahun-tahun dirawat.

Selain habis biaya untuk merawat, untuk mencabut bibit palsu yang sudah sempat ditanam pun menurutnya perlu biaya besar. "Sudah susah waktu menanamnya, rugi pula waktu dan biaya sementara tanaman sawit tidak berbuah," tukasnya.  

Penyebaran benih sawit asalan sulit dikendalikan di perkebunan sawit petani. Minimnya informasi yang dapat membedakan benih sawit asli dengan benih sawit asalan, yang menjadi pemicu masih masuknya benih sawit ilegal ke kebun milik petani.

Untuk menyiasati kondisi yang sangat merugikan petani tersebut, PPKS menggulirkan program Sawit Rakyat (Prowitra). Prowitra merupakan program pemberdayaan petani melalui pelayanan, pendidikan, dan pendampingan untuk membantu petani di remote area dalam mendapatkan informasi mengenai bahan tanaman berkualitas, praktek kultur teknis terbaik (best management practices, BMP), dan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Dengan Prowitra, petani bisa memperoleh benih yang legal dan jelas sumber asalnya. Selain itu, dalam program tersebut petani juga dimungkinkan untuk memperoleh potongan harga sebesar 10%.

Sejak tahun 2010 secara konsisten Prowitra ini dijalankan. Dan saat ini program ini sudah menjangkau 8 provinsi, yaitu Aceh, Sumut, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Lampung. Selain Prowitra yang berada di Sumatera, PPKS juga punya program penyediaan outlet PPKS untuk wilayah di Kalimantan dan Sulawesi.

PPKS punya lima outlet,yakni di Samarinda Kalimantan Timur, di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di kota Tarakan Kalimantan Utara, Mamuju Utara Sulawesi Barat, dan Morowali Sulawesi Tengah.

Yang patut diapresiasi adalah PPKS Medan, ungkap Hasril, tidak murni mencari profit atau keuntungan semata. Pasalnya, sebagian keuntungan yang diperoleh lembaga penilitian ini akan dikembalikan ke rakyat dalam bentuk hasil penelitian. ** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id