Menu
SAJIAN ISI

Membentuk Jiwa Korsa Perkebunan Featured

Membentuk Jiwa Korsa Perkebunan

Tingginya permintaan Sumber Daya Manusia (SDM) perkebunan yang handal dan mumpuni menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Jika sebelumnya, hanya mendidik kompetensi teknis terkait bidangnya, saat ini kompetensi itu diperluas untuk menguasai isu-isu keberlanjutan.

Dalam konteks itu, Instiper (Institut Pertanian Stiper)diharapkan menjadi Center of Excellence industri sawit nasional.

Rektor Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Purwadi dalam sambutannya pada pembukaan kuliah mahasiswa baru tahun akademik 2017/2018 di Graha Instiper Yogyakarta, baru baru ini, menyatakan, keberlanjutan bisnis yang menjadi tuntutan global mencakup dua hal. Pertama keberlanjutan fisik, yakni terkait tata kelola alam dan kedua keberlanjutan bisnis sosial terkait keberlanjutan usaha secara bertanggung jawab.

“Instiper berupaya mengakomodasi berbagai tuntutan yang beragam dengan memperluas kurikulum pendidikan. Kami mengakomodasi berbagai kompetensi itu agar mampu menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas, khususnya di bidang perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI),” kata Purwadi.

Purwadi menambahkan, dengan semakin meningkatnya kepercayaan yang diberikan korporasi perkebunan sawit yang menitipkan mahasiswa/i melalui program beasiswa serta berbagai program lainnya, ke depan Instiper menargetkan harus mampu menjadi center of excellence industri sawit nasional.

Menurut Purwadi, pada tahun akademik 2017/2018 Instiper menerima 858 mahasiswa baru, dengan tambahan ini maka jumlah total mahasiswa aktif (student body) mencapai 3.476 mahasiswa. Untuk tahun ini, Fakultas Pertanian menerima 604 mahasiswa (70%), dengan Prodi Agroteknologi sebanyak 424 mahasiswa dan agribisnis sebanyak 180 mahasiswa.

Kemudian, Fakultas Teknologi Pertanian menerima 148 mahasiswa (17%) dengan Prodi Teknologi Hasil Pertanian sebanyak 97 mahasiswa dan prodi Teknik Pertanian sebanyak 51 mahasiswa. Sedangkan Fakultas Kehutanan dengan prodi Kehutanan menerima sebanyak 106 mahasiswa (13%).

Berdasarkan gender sebanyak 82% mahasiswa laki-laki dan 18% mahasiswa perempuan. Mahasiswa baru tahun ini berasal dari 28 provinsi, dimana provinsi penyumbang mahasiswa terbesar adalah Sumatera Utara (29%), disusul Riau sebanyak (20%), Kalteng (7%), Jateng (6%), Jambi (5%), sisanya dari 23 provinsi lainnya.

Dalam kontek kepulauan, 65% berasal dari Pulau Sumatera, 15% dari Pulau Kalimantan, 14% dari Pulau Jawa, dan selebihnya dari kepulauan lainnya. Dengan demikian, Instiper menjadi sebuah minatur Indonesia. Ada berbagai suku, agama dan daerah, namun mereka memiliki kebersamaan dan mampu hidup bersama dengan damai.

Selain itu, lanjut Purwadi, Instiper juga mendapatkan kepercayaan lagi untuk mendidik 200 mahasiswa dalam jenjang pendidikan setara Diploma Satu dengan beasiswa penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

"Calon mahasiswa ini berasal dari anak-anak petani perkebunan rakyat kelapa sawit yang tersebar dari seluruh wilayah Indonesia. Program ini merupakan kedua kalinya, karena program yang sama telah dilakukan pada tahun yang lalu, dengan jumlah yang sama (200 mahasiswa) dan lulus semua dengan tepat waktu," kata Purwadi.

Para alumni Instiper hingga saat ini telah berkarya di sebagian besar perkebunan kelapa sawit dan industri kehutanan yang tersebar di seluruh Indonesia dengan karakternya yang khas.  

Ketua Umum Gapki (Gabungan pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Joko Supriyono yang hadir dan turut memberikan kuliah perdana di Instiper Yogyakarta, menjelaskan, kelapa sawit masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional hingga beberapa dekade mendatang.

“Sektor perkebunan kelapa sawit masih membutuhkan banyak SDM handal sehingga kejayaan Indonesia di sektor ini tetap terjaga,” kata Joko.

Joko menyambut baik terobosan yang dilakukan oleh Instiper untuk terus menjadi pemasok utama SDM unggulan di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Sekarang sawit adalah penyumbang devisa terbesar bagi pendapatan negara. Sudah mengalahkan minyak dan gas yang di masa lalu adalah andalan ekspor nasional,” kata Joko.

Joko sepakat bahwa tantangan industri sawit ke depan adalah mewujudkan sektor perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Saat ini, minyak sawit adalah salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia.

Minyak yang murah, mudah diproduksi dan sangat stabil ini digunakan untuk berbagai variasi makanan, kosmetik, produk kebersihan, dan juga bisa digunakan sebagai sumber biofuel atau biodiesel.  

Apalagi, berdasarkan proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2025 adalah 226,7 juta ton. Artinya dibutuhkan tambahan suplai sebesar 51 juta ton atau 5 juta ton per tahun. Jumlah yang tidak sedikit jika dikaitkan dengan penyediaan lahan. Artinya, jika kebutuhan tambahan minyak nabati tersebut dipenuhi oleh minyak sawit, maka hanya dibutuhkan lahan 15,2 juta ha (yield 3,96 ton/ha/tahun).

Sementara jika dipenuhi oleh minyak kedelai, dibutuhkan lahan 115,0 juta ha (yield 0,52 ton/ha/tahun), minyak rapeseed, dibutuhkan lahan 60,7 juta ha (yield 0,99 ton/ha/tahun. Dan jika dipenuhi oleh minyak bunga matahari, dibutuhkan lahan 84,7 juta ha (yield 0,71 ton/ha/tahun).

Meski demikian, menurut Joko, minyak sawit masih menghadapi berbagai kendala. Selain pelemahan harga minyak dunia misalnya, industri sawit nasional juga harus menghadapi ancaman El Nino, dan isu kebakaran hutan yang ‘menuduh’ perusahaan sawit sebagai aktor utama.

Selain itu, juga rendahnya daya saing sehingga perlu diambil langkah-langkah yang komprehensif sehingga tetap kompetitif di pasar dunia. Langkah tersebut di antaranya,  pertama, meningkatkan produktivitas tanaman, dengan menggalakkan research and development. Kedua, meningkatkan produktivitas SDM karyawan melalui peningkatan kompetensi SDM.

Kemudian yang ketiga, memperbaiki proses kerja, untuk meningkatkan produktivitas proses dan efisiensi. Keempat, mengembangkan produk hilir untuk create nilai tambah. Selain itu, juga meminimalkan hambatan eksternal (regulasi, perizinan, infrastruktur).

Dirjen Perkebunan Bambang mengingatkan dengan menyitir ucapan Bung Karno, 'Siapapun yang menguasai pangan dan energi dialah pemenang'. Peluang tersebut, menurut Bambang, sangat memungkinkan bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia saat ini memiliki komoditas pangan dan energi paling efisien di dunia, yakni sawit.

Menurut Bambang, hingga saat ini sawit memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp429,68 triliun.  Selain merupakan bahan pangan dan energi yang efisien, sawit mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Bahkan, sawit membantu melestarikan keseimbangan lingkungan dan berfungsi sosial sebagai perekat dan pemersatu bangsa.

Meski demikan masih terdapat beberapa kendala bagi perkebunan besar antara lain, legalitas usaha dan kepatuhan terhadap ketentuan; kemudian status dan kepastian perolehan lahan;
serta keamanan investasi dari masalah-masalah sosial dan okupasi lahan.

Sementara bagi perkebunan rakyat terdiri: keterbatasan modal untuk pemenuhan kebutuhan saprodi; tanaman kurang produktif, menurunnya tingkat kesuburan lahan dan tingginya serangan OPT; selain itu, mutu hasil belum memenuhi standar SNI; agroindustri belum berkembang; dan SDM dan kelembagaan petani belum optimal.

Selain itu, masih ada hambatan mengenai Isu-isu lingkungan (deforestasi, kebakaran, degradasi lahan), sosial, HAM dan keamanan pangan yang dilontarkan oleh berbagai pihak yang mengatakan bahwa pembangunan perkebunan dilakukan tidak dengan mengindahkan kelestarian lingkungan, menimbulkan tekanan terhadap hewan yang dilindungi, menyebabkan peningkatan suhu bumi akibat efek gas rumah kaca, penggunaan pestisida yang berlebihan sampai dengan isu penggunaan tenaga kerja di bawah umur.

“Kampanye negatif ini selalu didengungkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin perkebunan kita menjadi besar dan maju. Untuk mengatasinya perlu adanya sinergi dan kolaborasi stakeholder yang ada untuk mewujudkan kejayaan perkebunan,” pungkas Bambang. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id