Menu
SAJIAN ISI

Presiden Remajakan Kebun Sawit Rakyat

hortus edisi novemver 2017Pemerintah secara resmi mulai membantu mendanai peremajaan (replanting) kebun sawit milik rakyat. Hal itu ditandai dengan dilakukannya peremajaan sawit yang perdana oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kebun sawit milik petani swadaya di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan.  

Masa penantian petani sawit di negeri ini, khususnya dalam meremajakan tanaman mereka agaknya akan segera berakhir. Paling tidak, kegiatan penanaman kembali/peremajaan yang dilakukan Presiden Jokowi di salah satu kebun sawit milik petani swadaya di Kabupatan Muba, Sumsel, belum lama ini, menandai bakal berakhirnya kesulitan dana replanting yang dihadapi kebanyakan kebun sawit milik rakyat di negara ini.

Maklum, untuk meremajakan kebun sawit saat ini dibutuhkan biaya yang tidak kecil, yakni mencapai kisaran Rp50-60 juta per hektar (ha). Sementara kebanyakan dari mereka tidak memiliki dana sendiri yang memadai untuk membiayai peremajaan tersebut. Di sisi lain, akses mereka untuk mengajukan kredit ke bank selama ini juga masih sulit antara lain terbentur pada ketiadaan jaminan.

Dengan kesulitan pendanaan seperti itu, praktis selama bertahun-tahun kebun sawit milik rakyat khususnya petani swadaya di negara ini tak pernah diremajakan. Usia tanaman sawit mereka saat ini umumnya sudah tua alias tidak produktif lagi. Apalagi, kebanyakan dari petani tersebut belum menggunakan bibit sawit pilihan/berkualitas ketika menanami kebunnya. Tak pelak, produktivitas rata-rata petani sawit di Indonesia saat ini hanya 2-3 ton CPO (crude palm oil) per hektar per tahun.   

Pucuk dicinta ulam tiba, mulai tahun ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) akan mengucurkan bantuan dana replanting sebesar Rp25 juta per hektar untuk petani sawit di negara ini.  

Di hadapan petani sawit pada acara replanting sawit di Sumsel itu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa peremajaan kebun kelapa sawit rakyat ini untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Dengan replanting diharapkan produktivitas akan naik dari 2 ton menjadi 8 ton minyak kelapa sawit (CPO) per hektar per tahun.

Dalam peremajaan perdana tersebut, kebun milik petani yang akan di-replanting mencapai sekitar 4.400 hektar (ha). Pada kesempatan itu, Jokowi juga membagikan sertifikat tanah kepada 1.300 petani kelapa sawit.

Menurut Jokowi, dalam kegiatan replanting ini, pemerintah akan memberikan bibit-bibit unggul sawit yang yang bisa memproduksi 8 ton CPO per ha. Syaratnya tanaman tersebut harus dirawat dan dipelihara dengan baik.
 
“Ini perlu saya ingatkan, hari ini sudah mulai peremajaan, replanting, tapi setahun lagi atau awal 2019 akan saya cek kembali. Kerja dengan saya pasti saya cek, enak saja tidak dicek, jadi barang atau tidak? Jadi bibitnya, jadi benar dan baik tidak? Harus dicek, Kalau tidak dicek, enak nanti, setuju tidak?” kata Jokowi dengan nada berseloroh.

Menurut dia, peremajaan sawit dengan bibit unggul bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Sebab, mayoritas sawit rakyat kurang produktif meski ditanam di areal subur. Peremajaan ini akan menambah hasil produksi dari 2 ton per hektar menjadi 4 kali lipat atau sebanyak 8 ton, namun harus dirawat dan dipelihara.

Kebun rakyat, lanjutnya, harus bisa melakukan hal itu seperti halnya yang dilakukan pihak swasta. “Malaysia saja bisa lebih dari 8 ton, masak kita tidak bisa. Nanti bukan dua ton lagi, tapi delapan ton,” tegasnya.

Sawit adalah komoditas perkebunan yang menguntungkan dan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Sawit juga mampu menyejahterakan rakyat Indonesia.

Sambil menunggu sawit dipanen, pemerintah juga membantu memberikan bibit jagung dan kedelai bagi petani sebagai pendapatan tambahan. Tanaman itu ditanam secara tumpang sari di lahan sawit, sedangkan untuk biaya operasionalnya, menurut Presiden, diberi dana sebesar Rp25 juta.

“Di Musi Banyuasin akan diremajakan 4.400 hektar kebun sawit yang sudah tua, biayanya ditanggung pemerintah, bibitnya diberi, benih untuk palawija jagung juga diberi, kurang apa?” ungkap dia.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian, produktivitas kelapa sawit Indonesia masih tergolong rendah yaitu hanya 3,7 ton/hektar/tahun, padahal potensi dapat mencapai 8 ton/hektar/tahun.

Faktor utamanya adalah kondisi pohon kelapa sawit, khususnya milik rakyat yang sudah tua dan rusak serta penggunaan benih yang bagi sebagian petani belum menggunakan benih unggul bersertifikat sehingga perlu dilakukan peremajaan tanaman kelapa sawit seluas sekitar 2,4 juta hektar.

Selengkapnya baca di majalah HORTUS Archipelago edisi November 2017. Dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id